Segitiga

Ini kali pertama aku, si bungsu perempuan, diperbolehkan jalan-jalan sendiri sama orang rumah. Walaupun masih pada berisik nanya-nanya khawatir, tapi aku tetep jalan. Dan pilihanku untuk solo traveling perdana ini jatuh kepada…. JOGJAKARTA!

Menurutku Jogja selalu memberi cerita baru setiap kali aku datang. Suasana kota yang selalu menyambut hangat, gimana pun cuacanya. Terlalu sering aku kesini bareng sama orang lain, aku mau buat cerita baru kali ini. Di Jogja, sendirian.

Pertama kali menginjak kota ini, jujur aku kebingungan nyari hotel buat stay dengan budget ku yang gak seberapa. Peluh keringat udah berbulir-bulir di kening saking susahnya nyari kamar. Sampai akhirnya aku berada di satu hotel. Di depannya ada perempuan yang sedang asyik menghabiskan kuah bakso di mangkuknya.

“Lagi nyari hotel, mbak?” sapanya.

“Eh, iya mbak. Lagi nyari-nyari nih,” kataku tak terlalu mengacuhkan dia karena masih sibuk melongok mencari hotel.

“Mau sama saya aja? Kebetulan saya sendiri tapi pesan kamar yang twin bed.”

“Eh, emang nggak apa-apa?” aku masih kebingungan. Tak menyangka akan ada malaikat yang Tuhan berikan.

“Pak tolong bawain barang-barang mbak ini ya ke kamar saya,” ia langsung mengambil alih semuanya. Wow, ternyata masih ada orang baik di dunia ini ya.

Kami berbincang banyak hal. Dari yang receh hingga ketakutan kami akan hidup. Ternyata ia sedang dinas pekerjaan, dan teman kerjanya harus membatalkan dinas karena sakit. Makanya ia sendiri di kamar yang memiliki twin bed ini. Ia takut sendiri katanya.

Baru lima menit kami bertemu, tapi rasanya sudah lima tahun mengenal perempuan ini. Jadi begini rasanya backpacker yang bertemu orang baru ya. Seru bukan main! Mengenal kepribadian orang di waktu yang terbatas demi mendapat teman baru di perjalanan singkat ini.

Malamnya, kami memilih untuk berjalan-jalan ke Malioboro. Tak diduga, ia bertemu teman lamanya, lelaki! Kami mengobrol banyak malam itu hingga dini hari. Ya, aku juga ia ajak karena ia tak tega meninggalkanku sendirian di kamar. Sepulangnya kami ke hotel, ia baru bercerita, ternyata lelaki tadi itu memiliki kisah dengannya dulu. Mereka pernah memiliki perasaan yang sama, tapi memilih untuk tidak bersatu hanya karena alasan profesionalitas pekerjaan. Sungguh cerita yang tak indah akhirnya. Tapi melihat mereka berbincang, mereka memang kelihatan secocok itu! Aku tak menyangka ada cerita pahit di belakang kecocokan itu.

Lalu kami pun akhirnya harus berpisah. Aku harus pulang dan ia masih harus menjalani dinas pekerjaannya. Saat aku sudah berada di kereta pulang, aku mengiriminya pesan. Intinya hanya mau pamit dan berterima kasih atas kebaikannya. Tapi kamu tau apa yang ia sampaikan?

“Oh iya, lelaki yang bertemu di Malioboro malam lalu, dia nanyain kamu.”

Astaga! Bagaimana bisa? Padahal ia bercerita dengan binar di matanya tentang lelaki itu. Kok, bisa-bisanya lelaki itu malah ‘melihat’ aku bukannya dia?

Tapi tiba-tiba kreatifitasku tergelitik atas hal ini. Semua kebetulan yang tentunya bukan hanya sekedar kebetulan ini cerita yang menarik! Mungkin aku bisa menulis buku dari cerita ini. Dua perempuan yang tiba-tiba bertemu, lalu tak terduga bertemu seorang lelaki yang memiliki sejarah cinta bersama salah satu perempuan, dan si perempuan pun masih memiliki perasaan yang sama. Tapi nahasnya, si lelaki menyukai perempuan lain.

Bagus kan?

Kamu Tidak Sendiri. Percayalah.

Hidup itu ibarat mengayuh sepeda. Ada kalanya kamu harus terus mengayuh, dan kemudian menarik rem. Bisa jadi kamu terpaksa berhenti atau kamu memang memilih untuk berhenti. Sadar bahwa tak selamanya jalan itu yang harus kamu tempuh, dan memaksa kamu memutar otak untuk mencari jalan lain yang bisa kamu lewati. Ada kalanya kamu harus menaiki tanjakan, dan kamu kayuh sekuat tenaga, tak peduli berapa banyak keringat yang berjatuhan. Ketika berhasil sampai di atas, kamu harus siap-siap menghadapi turunan yang begitu terjal. Kamu bisa saja jatuh tiba-tiba. Tapi sampai kapan kamu memilih untuk tetap terjatuh? Menunggu dibantu orang? Padahal kamu bisa saja bangkit sendiri. Kamu pikir kamu tidak mampu, padahal kamu lebih dari bisa. Kamu luar biasa. Dan ada kalanya jalan tak selamanya lurus, jalanan itu berliku-liku. Rumit, kan? Tapi, bagaimana kamu bisa bilang hidup itu indah, kalau kamu tidak merasakan kejatuhan dan jerih payah?

Dan kehidupan yang penuh jatuh bangun, bak mengayuh sepeda roda dua ini, bahkan terjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Ini lebih dari sekedar kisah romansa anak muda. Ini tentang perjuangan yang penuh dengan rintangan. Bisa saja, saat ini kamu juga mengalami apa yang aku rasakan saat itu, dan kamu bingung kamu harus apa.

***

Aku tak pernah menduga, keputusan yang aku ambil di tahun 2016, keputusan yang aku ambil tanpa pikir panjang dan hanya sekedar coba-coba, mengantarkan aku ke liku-liku kehidupan yang begitu pelik tahun ini.

Tahun 2016 aku memutuskan untuk meneruskan pendidikanku kejenjang yang lebih tinggi, meraih gelar Magister. Alasannya sungguh cliché. Aku bosan. Bosan dengan kehidupanku yang berputar di situ-situ saja. Aku masih ingat sampai dengan detik ini, kalimat yang aku ucapkan hari itu, “I need something more challenging”. Dan begitu besar kuasa Tuhan, aku mendapatkan apa yang menjadi ucapanku pada saat itu.

Aku diterima kuliah di Universitas ternama di Indonesia. Who knows? Masih pada detik itu, aku berpikir ini adalah keberuntunganku.

Benar memang. Sampai tiba di tahun 2018 ini.

Semuanya terasa mudah. Sangat mudah. Aku menjalani profesiku sebagai Public Relation Manager di suatu perusahaan swasta pada lima hari kerja, sementara itu di akhir pekan aku menyibukkan diri sebagai mahasiswa.

Di situlah aku mulai melupakan satu hal. Waktu bersama keluarga dan sahabat terdekat sekarang jarang aku habiskan. Waktu romantis bersama kekasihku kini juga jarang bisa kunikmati.

Aku sadar aku harus mempercepat kelulusanku. Aku harus mulai menyelesaikan tesisku segera. Aku, pun, akhirnya mendapatkan dosen pembimbing yang dikenal sangat baik dan “gaul”. Aku pikir ini akan begitu mudah nantinya.

Tapi perasaanku ternyata salah. Dari sini aku belajar “never judge a book by its cover”. Dosenku baik memang, sangat baik. Tapi…pernah suatu kali, aku membuat janji bertemu dengan beliau hari senin pagi. Beliau lantas baru memberikan respon pukul 12 siang dan memintaku untuk bertemu di Depok pukul 1 siang, sementara aku masih berkutik dengan pekerjaanku. Awalnya aku pikir ini tantangan, Jakarta Pusat ke Depok tidak akan menjadi masalah untukku. Aku tentu saja mengiyakan dan tanpa pikir panjang meninggalkan banyak pekerjaanku menuju Depok menggunakan kereta. Sesampainya aku di sana, beliau tiba-tiba mengabariku untuk bertemu di Jakarta Pusat, di kampusku, yang lokasinya hanya berjarak 5 km dengan kantorku. Aku, pun, kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta Pusat. Sesampainya di sana pukul 3 sore, aku masih harus menunggu beliau kelar mengajar sampai pukul 5 sore.

Dalam hati sebenarnya aku menggerutu. “Kalau tau gini, aku masih bisa menyelesaikan pekerjaanku dulu dan berangkat dari kantor pukul setengah lima sore”, gumamku. Dan sekarang aku harus menerima konsekuensi disibukkan dengan 58 pesan dari grup WhatsApp , 5 panggilan tak terjawab dari bos, dan banyak notifikasi email kantor lainnya yang belum aku baca.

Tak hanya sampai di situ, kendala lain tentu saja muncul. Di tengah jalan, beliau memintaku untuk mencari dosen pengganti lain atas suatu alasan. Tapi naasnya, aku tidak dapat menemukan dosen pengganti lain, atau kasarnya, tidak ada dosen yang mau menerima aku sebagai mahasiswa bimbingan lagi. Aku akhirnya memilih untuk “numpang konsultasi” ke dosen lain, walaupun tidak ada ikatan sebagai dosen pembimbing. Karena pilihanku seperti ini, aku jadi sering merasa terombang-ambing. Kadang dosen A meminta aku mengerjakan seperti ini. Besoknya aku memilih numpang konsultasi ke Dosen B, dan beliau justru memintaku kembali ke konsep awal yang tak disetujui dosen A.

Disaat teman-temanku yang lain sudah selangkah atau bahkan dua langkah di depanku. Aku masih diam di tempat. Aku bahkan masih belum dapat memastikan konsep dan judul yang akan aku pakai.

Ironis.

Aku jadi sering emosi dan stress sendiri. Sesuatu yang harusnya bisa begitu mudah aku jalani, tapi jadi begitu sulit. Bukan karena aku, karena disekelilingku tidak mendukung.

Bahkan yang terjadi kemudian lebih parah. Aku kerap kali menerima sindiran dari teman-teman sekantorku, karena aku jarang meluangkan waktu di kantor. Sekalipun aku di kantor, aku lebih sering fokus mengerjakan tesisku. Awalnya mereka begitu supportive, mendukungku menjalani tugasku sebagai mahasiswa. Tapi semakin ke sini, aku sadar kalau mereka hanya ingin “cari muka”, dan diam-diam berusaha menjatuhkanku dihadapan atasanku. Seringkali aku mendengar sindiran “enak ya kerjanya jam 11 masuk, jam 4 udah pulang. Oh iya, kan ibu negara kita”.

Aku cuma diam. Mana mungkin aku bisa marah? Karena yang mereka katakan benar. Semua yang mereka kesalkan, memang sudah sepatutnya aku terima.

Aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Aku pikir dengan begitu, aku jadi bisa lebih fokus menyelesaikan kuliahku.

Tapi tidak semudah itu, lagi. Kali ini aku menemukan tanjakan baru. Kekasihku sepertinya sudah mulai merasa muak denganku. Aku tau ia tidak pernah mengatakannya secara langsung, “Sayang, kamu memuakkan”. Tapi aku bisa merasakan dari gelagatnya. Aku tau, aku salah lagi. Aku sering kali membatalkan janji bertemu dengannya, hanya karena aku lebih memprioritaskan janji bertemu dosenku yang tiba-tiba dan menjalani revisi semalam suntuk. Aku tau aku salah, karena setiap kali kita bertemu obrolan yang sering keluar dari mulutku hanyalah omelan, curhatan, dan amarah saja. Aku tau aku salah, karena aku bukan lagi pendengar yang baik. Aku lebih sering menceritakan keluh kesahku dan tak membiarkannya menceritakan kehidupannya. Semua hal jadi tentang aku. Dunia ini bukan tentang kita lagi, tetapi aku. Dan memang harus aku. Aku mulai egois, dan aku tau aku salah. Aku tau sebenarnya dia tidak akan pernah tega mengakhiri hubungan denganku. Dan untuk itu, aku yang mengakhiri hubunganku dengannya.

Aku mengakhiri hubungan kerjaku.

Aku mengakhiri hubungan percintaanku.

Disaat itu aku sadar, satu yang tak akan pernah bisa diakhiri, dan justru menguatkanku, adalah keluarga.

Suatu hari, aku pernah menangis dan memutuskan untuk tidak ke luar kamar seharian. Tapi dibalik pintu kamar, Ibu bilang, “Nak, kamu sudah mengorbankan banyak hal untuk memperjuangkan satu tujuan kamu. Jangan sampai kamu mengorbankan diri kamu sendiri. Kebahagiaan kamu. Tanyakan sama diri kamu sendiri, apa kamu nantinya akan bahagia bila kamu sudah sampai tujuan dengan cara kamu seperti ini?”

Then I ask myself, “Is it worth it?”

Percuma juga kalau menyesal. Nasi sudah menjadi bubur. Aku tidak akan mungkin kembali ke masa lalu menyatukan semua hal yang sudah aku cerai berai.

Satu satunya hal yang bisa aku lakukan sekarang hanya berjuang dan menikmati proses yang aku lakukan. Pun, aku tahu. Tuhan tidak tidur. Tuhan tau aku berjuang. Tuhan tau berapa banyak air mata dan keringat yang sudah aku keluarkan. Tuhan tau aku bukan orang yang hanya bisa diam dan berdoa tanpa berusaha. Kalau sampai pada akhirnya aku tidak sampai di tujuan yang aku mau, pasti ada tujuan lain yang lebih indah. Aku tau, Tuhan maha baik.

Aku buang semua pikiran negative yang sudah melekat di kepala aku. Aku hempaskan lagi semua kalimat-kalimat yang menyuruhku untuk berhenti dan putar balik.

Aku berjuang, ya Tuhan. Kali ini bukan hanya untuk aku, tapi untuk Mu yang tidak pernah tidur melihat perjuanganku.

Aku lulus.

Semua tiba-tiba berjalan begitu mulus.

Aku memang tidak lulus lebih cepat seperti teman-temanku lainnya. Tapi aku berhasil lulus tepat waktu, dengan predikat cum laude. Aku mampu melihat tangis bahagia Ayah dan Ibuku dari atas podium.

Dan saat itulah aku merasa sepeda yang sedang aku kayuh setelah melewati berbagai tanjakan, terjatuh, berbelok arah, pada akhirnya sampai pada jalan lurus yang mengantarkanku selamat sampai tujuan. Kebahagiaan.

Aku bahagia, Tuhan. Aku bahagia.

Terima kasih untuk tahun ini yang begitu penuh dengan lika-liku, tangis, amarah, tapi juga suka cita. Aku bersyukur atas semua yang terjadi padaku tahun ini. Dan aku sekarang bisa mendeskripsikan apa itu bahagia, yaitu ketika air mata berubah menjadi tawa.

Close Menu